"hadir untuk melayani ummat"

Download

Selasa, 02 Juli 2013

On 18.18 by Pondok Pesantren Karangsawo Paciran in , ,    No comments
Keunikan Ponpes Karangsawo-Paciran
Santri Diajari Jurus Sakti Penarik Rejeki 

Ponpes Karangsawo, yang berada di Paciran, Lamongan, tidak hanya mengajari para santri belajar ilmu agama. Namun, juga mengenalkan ilmu hikmah, yang salah satunya mempelajari 11 jurus yang salah satu fungsinya untuk pengobatan dan menarik rejeki.

    ***

    Pondok Pesantren Karangsawo, yang berada di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur,  terlihat masih cukup sederhana. Hanya ada dua bangunan terbuat dari kayu, satu berukuran besar dan satu lagi kecil,  yang terlihat masih baru. Sebuah pondasi masjid, terlihat berada di tengah-tengah kompleks.
    Meski belum lama berdiri, pesantren ini setidaknya sudah memiliki beberapa santri yang tinggal menetap. Sedangkan beberapa santri lain, yang berasal dari penduduk sekitar, hanya datang pada waktu-waktu pelajaran. 
    Ustad Minhajul Abidin,  Pengasuh Pondok Pesantren Karangsawo mengakui jika memang ponpesnya belum lama berdiri. Proses berdirinya dan pemilihan tempatnya pun, menurutnya bukan serta merta begitu saja. Namun, berdasarkan pada pesan gaib dan amanah dari seorang tokoh penyebar agama Islam di masa lalu di daerah tersebut. Yakni, Ki Darsono atau yang lebih dikenal dengan nama Tubagus Anom. Beliau ini menurut Ustad Abidin selama hidupnya usianya tidak terpaut jauh dengan Sunan Drajat, yang merupakan salah seorang walisongo yang makamnya selalu ramai diziarahi orang dari berbagai daerah.
    Sebelum memilih menetap di Paciran, Kiai muda berusia 41 tahun yang masih melajang ini pernah nyantri selama 20 tahun di Ponpes Ar-Roudloh Pasrepan Pasuruan dibawah asuhan KH. Abu Amar Khotib. Ketika mondok di sana beliau merasa telah digembleng lahir batin oleh gurunya. Tidak seperti santri lainnya, beliau juga menjadi khodim (pelayan) sang kiai beserta keluarganya. Sehingga beliau pernah melihat kejadian yang masih diingatnya hingga kini, yaitu keajaiban ketika cucu KH. Abu Amar Khotib yang masih balita tersiram air mendidih di dapur, tapi balita tersebut tidak cedera sama sekali. Dari situ beliau semakin ta’dzim (hormat) kepada gurunya. Beliau menganggap cucunya saja sakti seperti itu, apalagi sang kakek balita tersebut yang tak lain KH. Abu Amar Khotib.
    Sebagai khodim kiai, selain mengaji Abidin juga membantu sebagai juru masak ponpes dan menggarap lahan milik ponpes. Tak jarang bila logistik ponpes habis, ia  harus hutang logistik ke warung sebelah ponpes untuk memberi makan kepada para santri yang menuntut ilmu. Bahkan pada malam harinya, di tengah para santri lain sedang asyik tidur, ia malah bekerja membuat camilan berupa cilok untuk dijual oleh pedagang kaki lima di sekitar ponpes.
    Hasil jualan cilok ini digunakan untuk membeli logistik para santri. Pagi harinya  ia juga bekerja keras menggarap lahan milik gurunya. Bahkan ia pernah menjadi pemulung di ponpes. Semua itu dilakukan dengan tulus ikhlas demi pengabdian kepada sang kiai agar kelak mendapat barokah ilmu (tabarrukan) dari sang kiai.
    Beberapa hari sebelum KH. Abu Amar Khotib wafat, Ustad Abidin  menyampaikan dawuh kepada para santrinya bahwa yang akan diakuinya sebagai ‘santri dunia-akhirat’ hanya berjumlah 25 orang. Maka setelah mendengar dawuh sang kiai para santri menyibukkan diri dengan beribadah seperti sholat, puasa, wirid, dan khataman Al-qur’anl. Dengan maksud agar diakui oleh sang kiai.
    Namun hal itu tidak dilakukan Ustad Abidin yang terus menjalani rutinitas seperti biasa sebagai khodim sang kiai. Anehnya, pada suatu malam ia jsutru bermimpi bertemu KH. Abu Amar Khotib. Dalam mimpinya itu, sang kiai berpamitan karena akan pergi jauh dan beliau memberikan kenang-kenangan berupa sorban. Ternyata setelah itu, siang harinya KH. Abu Amar Khotib wafat.
    Mendapatkan mimpi itu, Ustad Abidin menyakini jika insya Allah, ia termasuk 25 santri yang mendapat pengakuan sebagai ‘santri dunia-akhirat’. Sehingga setiap tahunnya Kiai muda ini tidak pernah absen menghadiri haul gurunya itu.
    Sepulang mondok dari Pasuruan, Ustad Abidin lalu memberanikan diri untuk memugar makam keramat di desanya, makam itu sering ia ziarahi sejak remaja, yaitu makam seorang penyebar agama Islam yang bernama Ki Darsono atau Panembahan Tubagus Anom. Konon sebelum dipugar makam itu terkenal wingit atau angker, ibaratnya jalmo moro jalmo mati. Kini makam itu ramai dikunjungi penziarah.
    Setelah memugar makam orang sakti tersebut, bahkan Ustad Abidin mendapatkan wisik untuk mendirikan pondok pesantren yang lokasinya di Karangsawo. “Ibaratnya saya sekarang ini sedang meneruskan perjuangan Ki Darsono untuk menyebarkan agama seperti yang dulu pernah beliau lakukan,” ungkapnya.
    Karena itulah tak heran bila Ponpes Karangsawo Paciran ini konon masih dinaungi gaib Ki Darsono. Ceritanya, suatu saat pernah ada pasien perempuan yang tuna-rungu mau berobat ke Kiai Minhajul Abidin, ajaibnya pasien tersebut baru memasuki area ponpes pasien tersebut sudah dapat mendengar lagi. Selain itu ada tamu yang bermalam di Ponpes Karangsawo, pagi harinya ia terkejut bukan kepalang karena semua jimatnya keluar dompet dan tertata rapi di samping kepalanya, cincin akiknya juga juga ikut terlepas, padahal biasanya hanya bisa dilepas hanya menggunakan minyak goreng. Rupanya gaib yang menaungi Ponpes Karangsawo tidak berkenan terhadap tamu tersebut yang suka mengagung-agungkan jimatnya.
    Cerita lain, pernah suatu hari Ustad Abidin menolong istri seorang tukang becak yang lumpuh selama berbulan-bulan. Ia datang ke rumah pasien itu lalu melakukan pendeteksian secara gaib. Ternyata sebelum ditempati keluarga itu, tanah keluarga tersebut sangat angker karena dihuni seekor naga gaib.
    Setelah diadakan negoisasi dengan sosok naga gaib itu agar pergi atau mau dipindah namun ternyata ia menolak dipindahkan maka terjadilah pertarungan gaib, akhirnya dengan menggunakan ilmu asmaul haq sosok naga gaib itu dapat dikalahkan oleh Minhajul Abidin, dan pasien tersebut kemudian berangsur-angsur mulai bisa berjalan.
    Ponpes Karangsawo bisa dikatakan sebagai pesantren tradisional yang mirip pondok-pondok pada zaman dulu. Pelajaran yang diajarkan di pondok ini tak hanya melulu ilmu agama, tapi juga ilmu hikmah, kanuragan dan lain sebagainya. Ponpes tersebut juga menampung para dhuafa secara gratis. Bahkan, ada satu dua satrinya yang mantan preman dan pecandu narkoba, namun setelah ditangani Ustad Abidin, prilakunya menjadi baik dan merupakan salah seorang santri yang berprestasi dalam bidang olahraga, aduh gulat.
    Selain itu, Ustad Abidin juga sering dimintai pertolongan warga masyarakat sekitar yang terkena santet atau problem ekonomi. Untuk yang terakhir ini, konon Kiai Muda ini mempunyai tata cara untuk menderaskan rejeki atau membuka rejeki. Yakni, dengan ritual Kitmir atau yoga Islami, yang semasa Nabi Muhammad masih hidup sering melakukan hal ini.
    “Yoga ini berfungsi membuang energi negatif dan yang selanjutnya berganti  membuka pintu rejeki,” ungkapnya. Yoga ini menurut Ustad Abidin tidak lama dan hanya terdiri dari beberapa gerakan.



Makam Ki Darsono  Simpan Harta Karun

    Makam Ki Darsono berada agak jauh dari kompleks Ponpes Karangsawo, tepatnya di Jalan Raya Dendles, jurusan Brondong-Paciran. Makam ini berada persis di tengah-tengah sebuah sekolahan. Dulu sebelum dipugar oleh Ustad Abidin, tempat ini tidak ada yang mau menziarahi. Makam tersebut pun kesannya tidak teramat dan angker. Konon, tidak ada yang berani mengusiknya, sebab pernah ada yang berani masuk ke makam, tapi kemudian kesurupan. 
    Menurut Ustad Abidin, di makam itu pernah heboh orang yang berniat berburu harta karun. Bahkan, ada yang berniat untuk mengambilnya, namun tidak berhasil meski sudah melakukan berbagai macam cara. “Memang di tempat itu ada harta karunnya. Tapi, menurut saya harta karun itu belum waktunya muncul. Ada yang memperkirakan pada 2014 harta karun yang berada di makam itu akan muncul dengan sendirinya,” ujarnya.
    Berbicara mengenai harta karun, orang terkadang selalu berpikir mengenai harta benda yang bisa membuat orang kaya raya. Padahal, harta karun bisa saja berupa peninggalan-peninggalan penting, semacam benda-benda kuno. Karena itu tidak baik jika seseorang selalu dibutakan harta karun itu.
    Mata batin (kasyaf) Ustad Abidin boleh dibilang cukup tajam, setiap kali beliau berziarah ke makam waliyullah, ia selalu dapat melihat dan berkomunikasi dengan ruh waliyullah. Termasuk saat mengunjungi makam Ki Darsono. Ia sering mendapat petuah dari waliyullah yang telah wafat tersebut.
    Ziarah kubur bagi Kyai Minhajul Abidin merupakan life style dan hobby. Karena kegemaran olah laku ritual di makam keramat, ia pernah berhasil mendapat mata akik berlafal Allah, keris, dan 5 batangan emas berlogo wajah Ir. Soekarno. Namun sayang batangan emas tersebut lalu berubah menjadi batangan tembaga atau kuningan.  Perihal harta karun di makam Ki Darsono, lagi-lagi Ustad Abidin mengatakan bahwa tidak perlu susah-susah menariknya, nanti jika sudah waktunya akan muncul dengan sendirinya. ##RUD



*) Liputan Majalah Liberty
   



0 komentar:

Posting Komentar