"hadir untuk melayani ummat"

Download

Senin, 30 Oktober 2017




PERHATIAN !!!
Bagi para pengguna Facebook harap berhati-hati dengan Akun Facebook : Kyai Minhajul Abidin Karangsawo. Perlu diketahui bahwa Kyai Minhajul Abidin, Pengasuh PP. Karangsawo Paciran tidak memiliki akun Facebook Pribadi.
Jangan menerima permintaan pertemanan dari akun abal-abal tersebut. Kalau sudah terlanjur pertemanan mohon untuk dihapus.
Akun abal-abal tersebut sengaja dibuat oleh oknum yang tidak bertanggung-jawab untuk mencoreng nama baik Kyai Minhajul Abidin dan PP. Karangsawo Paciran. Banyak komentar di akun abal-abal tersebut yang tidak menceriminkan sosok pribadi Kyai Minhajul Abidin.
Demikian, harap maklum adanya.
Hormat kami,
Humas PP. Karangsawo Paciran

Sabtu, 01 Juli 2017

On 04.31 by Unknown in    No comments

Senin, 26 Juni 2017


Minggu, 25 Juni 2017


Sabtu, 24 Juni 2017


Segenap Keluarga Besar Pondok Pesantren Karangsawo Paciran Lamongan mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H. / 2017 M. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Semoga kita kembali menjadi pribadi yang suci.

Senin, 12 Juni 2017


Pondok Pesantren Karangsawo Paciran Lamongan menerima santri baru Tahun Tarbiyah 2017 / 2018.






Jumat, 09 Juni 2017

 

Sekitar 7 kilometer ke arah selatan dari Pondok Pesantren Karangsawo Paciran Lamongan terdapat Makam Sunan Sendang (Raden Nor Rahmat) yang berada di Desa Sendanduwur Kecamatan Paciran. Sunan Sendang hidup semasa Sunan Drajat. Makam beliau amatlah unik dengan ukiran indah.

 

Sekitar 9 kilometer ke arah timur dari Pondok Pesantren Karangsawo Paciran Lamongan terdapat Makam Sunan Drajat di Desa Drajat Kecamatan Paciran. Sunan Drajat merupakan salah satu anggota Walisongo (Penyebar Agama Islam di Pulau Jawa).



بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
 (Sejarah seorang pejuang Allah yang bernama Syam’un Al-Ghazi (samson) dan hubungannya dengan Asal Mula Pahala Ibadah 1000 Bulan/Lailatul Qadar). Mengapa lebih baik dari 1000 bulan? Atau, mengapa 1000 bulan? Atau adakah kisah tentang 1000 bulan? Kisah tentang 1000 bulan, berawal dari seorang Nabiyullah yang bernama Nabi Syam’un al-Ghazi as. Nabi dari kalangan Bani Israil.

Beliau adalah hakim ketiga terakhir pada zaman Israel kuno. Nabi Syam’un al-Ghazi As, memiliki beberapa nama; dalam bahasa Arab, beliau disebut dengan Syamsyawn atau Syam’un. dalam bahasa Ibrani, disebut Šimšon; sedangkan dalam bahasa Tiberias, disebut Šhimšhôn; lalu dalam Alkitab Nasrani,disebut Samson. Nama Syam’un sendiri artinya “yang berasal dari matahari”, sedangkan al-Ghozi, artinya “yang berasal dari Ghazi” (Ghaza,Palestina sekarang).

Suatu ketika Nabi Muhammad saw, Berkumpul bersama para sahabat dibulan Suci Ramadhan. Nabi Muhammad SAW, terlihat tersenyum sendiri, lalu ditanya oleh para sahabatnya “Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah”” Beliau menjawab, “Diperlihatkan kepadaku dihari akhir, ketika seluruh manusia dikumpulkan dipadang mah’syar, ada seorang Nabi yang membawa pedang dan tidak mempunyai pengikut satupun, masuk ke dalam surga, dia adalah Syam’un”.

Kemudian Rasulullah bercerita tentang seorang Nabi bernama Sam’un Al Ghozi AS, beliau adalah Nabi yang berasal dari Bani Israil yang diutus di tanah Romawi. Nabi Sam’un Ghozi AS berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Allah SWT. Nabi Syam’un al-Ghozi as. adalah seorang pahlawan berambut panjang yang memiliki kemukjizatan dapat melunakkan besi, dan dapat merobohkan istana. Syam’un memiliki senjata semacam pedang yang terbuat dari tulang rahang unta bernama Liha Jamal, dengan pedang itu dia dapat membunuh ribuan orang kafir.

Siapapun musuh yang berhadapan dengannya, pasti akan hancur dengan pedang ajaibnya. Tidak hanya itu, bahkan ketika dia merasa haus dan lapar, dengan perantara pedangnya pula Allah memberikan makanan dan minuman. Syam’un seorang muslim dan seorang yang ahli ibadah yang sangat disegani oleh kaum kafir. Sudah tak terhitung lagi orang kafir yang mati di tangannya. Selain itu, Syam’un juga ahli ibadah dan tercatat ia sanggup beribadah selama 1000 bulan dengan shalat malam dan siangnya berpuasa, dimana selama 1000 bulan tak pernah lepas dari shalat malam dan siangnya selalu berpuasa. Samson adalah seorang pembela agama tauhid (meng Esa kan 1 tuhan / ALLAH), berperang melawan kaum kafir selama 1000 bulan, hanya berbekal tulang dagu unta sebagai senjata, tidak memiliki senjata lain. Setiap kali menghantam kaum kafir dengan janggut untanya, terbunuhlah banyak kaum kafir dalam jumlah yang tidak terhitung.
فَإِذاَ عَطَسَ يَخْرُجُ مِنْ مَوْضِعِ الأَسْناَنِ ماَءُ عَذَبٍ فَيَشْرِبَهُ , وَإِذاَ جاَعَ يَنْبُتُ مَنْهُ لَحْمٌ فَيَأْكُلَهُ , فَكاَنَ عَلَى هَذاَ كُلَّ يَوْمٍ حَتَّى مَضَى مِنْ عُمْرِهِ أَلْفَ شَهْرٍ وَهِىَ ثَلاَثُ وَثَمَانُوْنَ سَنَةً وَأَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ , فَعَجَزَ الكُفاَرُ عَنْ رَدِّهِ , فَقاَلُوْا ِلإِمْرَأَتِهِ وَهِىَ كاَفِرَةٌ إِنّاَ نُعْطِيْكِ أَمْواَلاً كَثِيْرَةً إِنْ قَتَلْتِ زَوْجَكِ , قاَلَتْ أَناَ لاَأَقْدِرُ عَلَى قَتْلِهِ 
Dengan hanya bersenjatakan tulang rahang seekor unta yang di bentuk menyerupai sebuah pedang pendek yang tajam, Nabi berperang melawan bangsa yang menentang Allah SWT, dengan penuh keberanian dan selalu dapat mengalahkan mereka. Ketangguhan dan keperkasaan Nabi Sam’un dipergunakan untuk menentang penguasa kaum kafirin saat itu, yakni raja Israil. Menghadapi kesaktian Nabi Syam’un al-Ghozi as, membuat para kafirun kewalahan. Mereka mencari jalan untuk bisa dibuatlah rencana untuk membunuh Syam’un. Akhirnya sang raja Israil mencari jalan untuk menundukkan Nabi Sam’un.

Berbagai upaya pun dilakukan olehnya, sehingga akhirnya atas nasehat para penasehatnya diumumkanlah, barang siapa yang dapat menangkap Sam’un Ghozi, akan mendapat hadiah emas dan permata yang berlimpah. Akhirnya ide licik-pun ditemukan. Mereka menawarkan hadiah berupa uang dan perhiasan yang berlimpah kepada istri Nabi (Istri samson), dengan syarat ia bersedia melumpuhkan suaminya. Istri Nabi yang ternyata seorang kafir, sangat tergiur oleh hadiah itu. Mereka kemudian memanfaatkan Istri Syam’un, untuk ikut membantu membunuh Syam’un.

Sam’un Ghozi AS terpedaya oleh isterinya dan dikhianati istrinya sendiri dan pada akhirnya istrinya mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Setelah dirayu dengan imbalan yang menggiurkan, sang istri mengiyakan ajakan kaum kafir untuk membunuh Syam’un suaminya sendiri karena ada iming-iming harta benda yang banyak, si istri akhirnya mau melakukan kejahatan itu.
 فَقاَلُوْا نُعْطِيْكِ حَبْلاً شَدِيْداً فَشَدِّى بِهِ يَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ فىِ نَوْمِهِ وَنَحْنُ نَقْتُلُهُ , فَشَدَتْهُ المَرْأَةُ فىِ نَوْمِهِ فاَسْتَيْقَظَ فَقاَلَ مَنْ شَدَّنِى ؟ فَقاَلَتْ شَدَدْتُ ِلأَجْرِبَكَ فَجَدَبَ يَدُهُ فَقَطَعَ الحَبَلُ , ثُمَّ جاَءَ الكُفاَرُ بِسِلْسِلَةٍ فَشَدَتْهُ المَرْأَةُ بِهاَ فاَسْتَيْقَظَ , فَقاَلَ مَنْ شَدَّنِى ؟ قاَلَتْ أَناَ شَدَدْتُ ِلأَجْرِبَكَ فَجَدَبَ يَدُهُ فَقَطَعَ السِّلْسِلَةُ 
Maka orang kafir memberikan ide agar dia mengikat tangan dan kaki Syam’un sewaktu tidur, untuk kemudian akan dibunuh dengan beramai-ramai. Para pembesar2 Kafir berkata, “Kami akan memberimu seutas tali kuat, ikatlah tangan dan kakinya ketika dia tidur, nanti setelah itu kamilah yang bertindak untuk membunuhnya.” Pada hari pertama Istri Syam’un gagal karena ketiduran yang disebabkan karena suaminya terlalu lama mengerjakan shalat malam. Lama waktunya itu sehingga membuat istri Syam’un tak kuasa menahan kantuk yang amat sangat. Memang Syam’un tidurnya hanya sedikit saja dalam semalam. Dimana malam-malamnya hanya dipergunakan untuk beribadah kepada Allah SWT.
Keesokan harinya, istri Syam’un lapor kepada kaum kafir bahwa dia belum berhasil mengikat tangan dan kaki suaminya. Mereka tidak mempermasalahkan hal ini. Pada hari kedua Istri Syam’un berhasil mengikat suaminya ketika tidur dengan seutas tali yang kuat. Tatkala Syam’un bangun dan ingin beribadah kepada Allah SWT, ia terkejut karena kedua kakinya terikat. “Wahai istriku, siapakah yang mengikatu dengan tali ini?” tanya Syam’un kepada istrinya. “Aku yang mengikat, hanya sekedar mengujimu sampai sejauh mana kekuatanmu,” ujar istrinya. Syam’un dengan mudah dapat melepaskan tali yang mengikatnya dengan satu ucapan doa.Kemudian Syam’un lalu bergegas menuju tempat peribadatannya. Maka gagallah rencana pembunuhan pada hari kedua itu.

Namun, setelah itu, musuh-musuh kafir datang lagi dengan membawa rantai dan istri Syam’um siap mengikat suaminya lagi pada keesokan malamnya. Pada hari ketiga Istri Syam’un di hari ketiga itu berhasil lagi mengikat suaminya dengan rantai yang diberikan oleh orang-orang kafir. “Wahai istriku, siapakah yang mengikatku kali ini?” tanya Syam’un dengan nada agak marah ketika bangun dari tidur. “Aku yang mengikatnya, sekedar untuk mengujimu,” jawab istrinya. Namun, dengan sekali hentakan Syam’un dapat menghancurkan rantai tersebut. Rahasia Kekuatan Syam’un Lalu Syam’un segera menarik tangannya dan memotong rantai itu. Kemudian istrinya pun segera membujuk suaminya agar mau menceritakan rahasia kekuatan tubuh yang dimiliki suaminya. Akhirnya Syam’un bercerita juga, jika sebenarnya ia adalah seorang wali dari sekian banyak WALIYULLAH yang hidup di dunia ini.

Sam’un berkata “Wahai istriku aku wali diantara wali kekasih Allah, segala perkara dunia ini tidak ada yang sanggup mengalahkan diriku, aku punya rambut panjang ini, ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkanku dalam perkara dunia kecuali rambutku ini,” jelas Syam’un. Syam’un memang memiliki rambut yang panjang dan panjangnya digambarkan bahwa ujung rambutnya akan menyentuh tanah saat Syam’un berdiri. Karena sudah mengetahui kelemahan suaminya, akhirnya pada saat syamun tidur mulailah istrinya mengikat tangan Syam’un dengan 4 helai rambutnya dan mengikat pula kakinya dengan 4 helai rambut milik Syam’un, sementara ia tetap dalam tidurnya. Setelah bangun, Syam’un bertanya, “Wahai istriku, siapakah yang mengikatku ini?” “Aku, untuk mengujimu,” jawab istrinya yang mulai ketakutan. Setelah itu Syam’un berusaha dengan sekuat tenaga untuk melepaskan ikatan itu, namun dia tidak berdaya untuk memotongnya. Si istri langsung saja memberitahukan kepada kaum kafir tentang hal ini.

Nabi Syam’un al-Ghozi as lalu dibawa ke istana kehadapan raja para kafirun. lalu diikat pada tiang utama istana dan dipertontonkan kepada khalayak istana. Mulailah mereka memotong kedua telinga, bibir, kedua tangan dan kakinya. Tidak hanya itu, Nabi juga disiksa dengan dibutakan kedua matanya, Mereka menyiksa Nabi dengan tujuan agar beliau mati secara perlahan-lahan. Istrinya yang jahat, ikut pula menyaksikan penyiksaan tersebut tanpa rasa belas kasihan. Astaghfirullah sungguh biadab orang kafir. Pertolongan Allah SWT Datang Begitu hebatnya siksaan tersebut, membuat Allah SWT lewat perantaraan malaikat jibril berbicara dengan suaranya yang hanya bisa didengar oleh Nabi Syam’un al-Ghozi as, “Hai Syam’un apa yang engkau inginkan, Aku akan menindak mereka.” Nabi menjawab, “Ya Allah, berikanlah kekuatan kepadaku hingga aku mampu menggerakkan tiang istana ini, dan akan kuhancurkan mereka dengan kekuatan dari Allah !.
Bismillah. La haula wa la quwwata illa billah! Do’a Nabi Syam’un al-Ghazi as diKabulkan Allah SWT. Allah SWT memberi kekuatan kepada Syam’un yang kekuatannya tidak bisa dibayangkan dan melebihi kekuatan dari rambutnya sendiri. Maka dengan seizin Allah, Nabi Syam’un al-Ghazi as. menggoyangkan tiang istana tersebut, Syam’un hanya beringsut sedikit saja, putuslah tali rambut itu bahkan dan tiang itupun rubuh menimpa raja bersama seluruh khalayak istana termasuk istrinya yang durhaka dan orang-orang yang telah menyiksanya. tiangnya juga ikut roboh dan hancur lebur. istana yang dijadikan tempat pembantaian itu juga turut hancur dan atapnya menimpa orang-orang kafir dan semuanya mati. Begitu juga dengan istrinya, juga ikut tertimpa reruntuhan gedung istana raja kafir. Mereka semua mati tertimpa reruntuhan bangunan istana dan terkubur didalamnya. Hanya Syam’un  sendiri yang selamat, lalu Allah mengembalikan seluruh anggota badan yang telah terpotong dan menyembuhkan segala sakitnya.

 فَبَعْدَ ذَلِكَ عَبَدَ اللهَ أَلْفَ شَهْرٍ مَعَ قِياَمِ لَيْلِهاَ وَصِياَمِ نَهاَرِهاَ , فَضَرَبَ بِالسَّيْفِ فىِ سَبِيْلِ اللهِ 

Setelah peristiwa itu, Nabi Syam’un al-Ghozi as. bersumpah kepada Allah SWT akan menebus semua dosanya dengan berjuang menumpas semua kebatilan dan kekufuran selama 1000 bulan tanpa henti. Nabi menyibukkan diri dalam beribadah kepada Allah. Malam hari dilalui dengan memperbanyak shalat malam, sedangkan siangnya beliau berpuasa. Nabi menjalankan ibadahnya selama seribu bulan hingga ajalnya tiba. Setelah mendengar kisah Nabi Syam’un al-Ghozi as, para sahabat Nabi Muhammad saw menangis terharu, sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW. “Ya Rasullulah, tahukah baginda akan pahalanya?” Jawab Rasulullah, “Aku tidak mengetahuinya.”
فَأَنْزَلَ اللهُ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بِهَذِهِ السُّوْرَةِ (القَدْرِ) وَقاَلَ ياَمُحَمَّدْ أَعْتَيْطُكَ وَأُمَّتَكَ لَيْلَةَ القَدْرِ العِباَدَةُ فِيْهاَ أَفْضَلُ مِنْ عِباَدَةِ سَبْعِيْنَ أَلْفِ شَهْرٍ 
Setelah Rasulullah selesai berkisah, Allah SWT menyuruh Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad dan menurunkan Surat Al Qadr. “Hai Muhammad, Allah memberi Lailatul Qadar kepadamu dan umatmu, ibadah pada malam itu lebih utama daripada ibadah 1000 bulan,” ujar Malaikat Jibril. Allah SWT berfirman: Surat Al-Qadar ayat 1-5:
 إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ٣ تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ٤ سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ٥ 
Artinya:
1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?
3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.
Mendengar berita itu, Rasulullah SAW menyuruh sahabat-sahabatnya untuk berburu malam Lailatul Qadar agar mendapatkan pahala seperti yang Allah AWT berikan kepada Waliyullah Syam’un Al-Ghazi. Apabila fajar telah terbit di malam qadar, maka malaikat Jibril berkata: Wahai para malaikat, kumpul kemari dan kumpul kemari.., Para malaikat Ya Jibril apa yang Allah perbuat untuk kaum muslimin di malam ini dari ummat Nabi Muhammad SAW ? Jibril menjawab Sesungguhnya Allah memandang kepada mereka dengan penuh kasih sayang, Allah memaafkan serta ngampuni dosa-dosa mereka, kecuali empat kelompok. Para malaikat bertanya Siapa empat kelompok itu ? Jibril menjawab: Pertama, orang yang membiasakan diri minum arak, mabuk-mabukan. Kedua, Orang yang durhaka kepada orang tua. Ketiga, orang yang memutus silaturrahmi. Keempat, orang yang bertengkar, yaitu pertengkaran dengan sesama yang belum damai dalam jangka waktu tiga hari.

Subhanallah…, Maha suci ALLAH.
sumber:
-DurrAtun Nasihin” pada Bab Lailatul Qadr.
-kitab Muqasyafatul Qulub.
-Kitab Qishashul Anbiyaa (Al-Imam Ghazali).

Rabu, 31 Mei 2017

On 19.32 by Unknown   No comments


Akhir-akhir ini kian santer rasanya orang-orang yang meneriakkan bahwasannya Shalat Tarawih 20 rakaat itu Bid'ah, yang dilakukan Nabi SAW hanya 8 rakaat ditambah 3 rakaat sebagai Witir. Entah hal itu disuarakan di Mimbar-Mimbar, Majalah, selebaran, Radio, TV dan khususnya di Media Internet.

Sebenarnya bagi kami Ahlussunah Wal Jama'ah yang berpegangan pada salah satu Imam dari Madzhab 4 yang tak lain adalah Generasi Salaf, tak ada masalah jika ada yang melakukan Tarawih 8 rakaat bahkan 2 rakaat pun juga tak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika ada orang yang melakukan Shalat Tarawih 8 rakaat ditambah Witir 3 rakaat kemudian menganggap lebih dari itu adalah Bid'ah.


Pada dasarnya Shalat Tarawih sendiri tidak dibatasi oeh Rasulullah SAW, hanya saja ada sekelompok orang yang salah faham akan sebuah Hadits yang dianggapnya sebagai Shalat Tarawihnya Rasulullah, sedangkan yang berbeda dengan pemahamannya dianggap Salah dan Bid'ah. Baiklah untuk memperjelas seperti apa sebenarnya Shalat Tarawih yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang kemudian dilanjutkan oleh Generasi Sahabat di bawah pimpinan Khulafa' Ar-Rasyidin. Kemudian dilanjutkan oleh Generasi Tabi'in sampai pada masa Para Imam Madzhab, berikut ini adalah penjelasan rinci tentang hal tersebut:

Shalat Tarawih adalah termasuk Qiyamullail (menghidupkan malam dengan Ibadah) di Bulan Ramadhan, dan ini adalah termasuk Shalat Sunnah yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan Para Sahabat yang pada awalnya dilakukan sendiri-sendiri akan tetapi pada akhirnya dilakukan dengan cara berjama'ah.

عن السيدة عائشة رضي الله عنها قالت : ( إن النبي صلى الله عليه وسلم صلى في المسجد فصلى بصلاته ناس، ثم صلى من القابلة فكثر الناس، ثم اجتمعوا في الليلة الثالثة فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، فلما أصبح قال:     "قد رأيت الذي صنعتم ولم يمنعني من الخروج إليكم إلا أني قد خشيت أن تفرض عليكم"). رواه البخاري (2012) وأبو داود (1373)
Telah diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah r.a. beliau berkata: "Sesungguhnya Nabi SAW Shalat di Masjid kemudian diikuti orang-orang, kemudian Shalat lagi di malam berikutnya maka orang-orang yang Shalat semakin banyak. Kemudian di malam ketiganya orang-orang telah berkumpul (di Masjid) akan tetapi Rasulullah SAW tidak keluar. Ketika tiba di pagi harinya Rasulullah SAW bersabda: "Sungguh aku telah melihat apa yang kalian lakukan, (sebenarnya) tiada yang menghalangiku keluar kepada kalian melainkan aku takut Shalat Tarawih diwajibkan atas kalian". HR. Bukhari no. 2012 dan Abu Daud no. 1373.

Ketika para Sahabat mengetahui sebab tidak keluarnya Rasulullah SAW itu karena khawatir Shalat Tarawih itu diwajibkan kepada mereka bukan karena pada Qiyamullail tersebut ada pelanggaran secara Syariat, sehingga malam berikutnya para Sahabat tetap pergi ke Masjid dan melakukan Shalat di Masjid. Sebagian mereka ada yang Shalat sendirian dan sebagian ada yang berjama'ah dan hal ini berlangsung sampai pada masa pemerintahan Sayyidina Umar r.a.

Suatu ketika Sayyidina Umar r.a. memasuki Masjid dan menemukan mereka dalam jumlah yang banyak sehingga Masjid penuh sesak oleh Para Sahabat dan Tabi'in, dan setiap orang ada yang Shalat sendirian ada pula yang berjama'ah dengan temannya. Sayyidina Umar r.a. memandang hal ini dengan pandangan penuh wawasan terhadap keadaan mereka untuk mencarikan jalan keluar agar mereka lebih Khusyu'. Sehingga beliau memberi ketetapan dengan mengumpulkan mereka pada satu Imam yaitu Sayyidina Ubay Bin Ka'ab r.a. sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sayyidina Abdurrahman Bin Abdulqori, beliau berkata:

"خرجت مع عمر بن الخطاب رضي الله عنه ليلة في رمضان إلى المسجد، فإذا الناس أوزاع متفرقون يصلي الرجل لنفسه، ويصلي الرجل فيصلي بصلاته الرهط، فقال عمر رضي الله عنه: إني أرى لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل، ثم عزم فجمعهم على أبي بن كعب، ثم خرجت معه ليلة أخرى والناس يصلون بصلاة قارئهم، قال عمر: (نعمت البدعة هذه والتي ينامون عنها أفضل من الذين يقومون يريد آخر الليل وكان الناس يقومون أوله). رواه البخاري (2010)
"Suatu ketika aku keluar ke Masjid bersama Umar Bin Khattab r.a. pada suatu malam di Bulan Ramadhan, sedangkan orang-orang  terpisah-pisah, ada yang Shalat sendirian ada pula yang Shalat kemudian diikuti oleh  sekelompok orang. Kemudian Umar berkata: "Sungguh aku memandang andai aku kumpulkan mereka pada satu Imam tentunya itu lebih baik". Kemudian beliau mengumpulkan mereka pada Ubay Bin Ka'ab, kemudian aku keluar bersama Umar pada malam lainnya sedangkan orang-orang Shalat dengan Imam mereka, kemudian Umar berkata: "Sebaik-baik Bid'ah adalah ini, sedangkan yang tidur terlebih dahulu kemudian bagun di akhir malam itu lebih utama, sedangkan orang-orang melakukannya di awal malam". HR. Bukhari no. 2010.

Dalam hal ini apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar tidak diingkari oleh seorangpun dari Kalangan Sahabat sedangkan hal ini belum ada sebelumnya akan tetapi mereka tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar tidaklah menyalahi As-Sunnah. Nabi Muhammad SAW ketika memutuskan untuk tidak keluar di malam ketiga Ramadhan hanya karena khawatir Qiyamullail tersebut diwajibkan atas mereka. Sedangkan setelah Nabi Muhammad SAW wafat sehingga turunnya Wahyu tentang suatu Hukum itu telah terhenti, pun di sana tiada satu hal yang mencegah mereka untuk Shalat berjama'ah pada satu Imam di Masjid, terlebih dalam jama'ah itu tentunya lebih sempurna dalam hal kekhusyu'an dan lebih banyak pula pahalanya dari pada Shalat sendirian. Sedangkan Rasulullah SAW bersabda:

"عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ". رواه أحمد (4/126) وأبو داود (4607) والترمذي (2676) وابن ماجه (43)
"Hendaknya kalian mengikuti Sunnahku dan Sunnahnya Khulafa' Ar-Rasyidin yang mendapatkan hidayah, berpegang teguhlah dengan Sunnah tersebut". HR. Ahmad (Juz 4 hal. 126), Abu Daud no. 4607, Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Majah no  43.

Di sisi Rasulullah SAW juga bersabda:

"اقتدوا باللذين من بعدي أبي بكر وعمر".
رواه أحمد (5/382) والترمذي (3662) وابن ماجه (97)
"Ikutilah 2 orang ini setelahku, yaitu Abu Bakar dan Umar". HR. Ahmad (Juz 5 hal. 382), Tirmidzi no. 3662 dan Ibnu Majah no. 97.

Maka dari itu Sayyidina Umar r.a. memperbanyak bilangan rakaatnya akan tetapi meringankan bacaanya dari pada memanjangkan satu rakaat akan tetapi memberatkan Makmum. Sedangkan apa diucapkan oleh beliau tentang "Sebaik-baik Bid'ah adalah ini", itu hanya dimaksudkan Qiyamullail di awal malam tidak seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang melakukan di pertengahan malam atau di penghujungnya. Hal ini sebagaimana telah dikatakan oleh Sayyidina Umar pada Hadits sebelumnya yaitu: "Sedangkan yang tidur terlebih dahulu kemudian bagun di akhir malam itu lebih utama, sedangkan orang-orang melakukannya di awal malam". Begitu juga penafsiran dari Perawi Hadits tersebut yaitu Sayyidina Abdurrahman r.a. tentang hal tersebut.

Sedangkan ada sekelompok orang dari kalangan Salaf yang melakukan Qiyamullail Ramadhan dengan bilangan 40 Rakaat ditambah 3 rakaat Shalat Witir sedangkan yang lainnya melakukan Shalat Tarawih 36 rakaat ditambah 3 rakaat Shalat Witir dan lain-lain sebagaimana yang akan kami sebutkan nanti, Insya Alah.

Adapun dalil secara terperincinya adalah sebagai berikut:

عن يزيد بن رومان قال: "كان الناس في زمن عمر يقومون في رمضان بثلاث وعشرين ركعة". رواه مالك في الموطأ (106)
Dari Yazid Bin Ruman, beliau berkata: "Orang-orang pada masa Umar melakukan Qiyamullail di Bulan Ramadhan dengan 23 rakaat". HR. Malik dalam Al-Muwaththo' hal. 106.

وعن سيدنا السائب بن يزيد رضي الله عنه قال: "كانوا يقومون على عهد عمر بن الخطاب رضي الله عنه في شهر رمضان بعشرين ركعة وكانوا يقومون بالمئتين وكانوا يتوكؤون على عصيهم في عهد عثمان من شدة القيام".
رواه البيهقي في السنن الكبرى (496/2) وصححه العيني والقسطلاني في شرحيهما لصحيح البخاري والسبكي في شرح المنهاج والكمال بن الهمام في شرح الهداية والعراقي في شرح التقريب والإمام النووي في المجموع.
Dari Sayyidina Saib Bin Yazid r.a. beliau berkata: "Dahulu pada masa Uman Bin Khattab r.a. orang-orang melakukan Qiyamullail pada Bulan Ramadhan 20 rakaat dengan membaca 200 ayat, sedangkan pada masa Utsman r.a. mereka bersender pada tongkat karena lamanya berdiri". (HR. Bayhaqi dalam As-Sunan Al-Kubra Juz 2 hal. 496 dan dishahihkan oleh Al-'Aini dan Al-Qasthalani dalam Syarah mereka terhadap Shahih Bukhari, Begitu juga As-Subuki dalam Syarah Al-Minhaj, Al-Kamal Bin Al-Hamam dalam Syarah Al-Hidayah, Al-'Iraqi dalam Syarah At-Taqrib dan Imam Nawawi dalam  Al-Majmu'.)

وأخرج المروزي عن زيد بن وهب أنه قال: "كان عبد الله بن مسعود يصلي لنا في شهر رمضان فينصرف وعليه ليل"، قال الأعمش: "كان يصلي عشرين ركعة يوتر بثلاث".
Imam Al-Maruzi meriwayatkan dari Zaid Bin Wahab, beliau berkata: "Dahulu Abdullah Bin Mas'ud melakukan Shalat bersama kami pada bulan Ramadhan, kemudian beliau pulang sedangkan malam masih tersisa", Al-A'masy berkata: "Beliau telah melakukan Shalat 20 rakaat serta 3 rakaat witir".

Begitu juga riwayat dari Daud Bin Qais, beliau berkata:

"أدركت الناس في إمارة أبان بن عثمان وعمر بن عب العزيز يعني بالمدينة يقومون بست وثلاثين ركعة ويوترون بثلاث".
"Aku menemukan orang-orang pada masa pemerintahan Aban Bin Utsman dan Umar Bin Abdul Aziz di Madinah melakukan Qiyamullail (Shalat Tarawih) 36 rakaat serta 3 rakaat Witir".

Begitu juga riwayat dari Nafi', beliau berkata:

"لم أدرك الناس إلا وهم يصلون تسعا وثلاثين ويوترون منها بثلاث".
"Tidaklah aku menemui orang-orang melainkan mereka melakukan Shalat (Tarawih) 39 rakaat dengan 3 rakaatnya sebagai Witir".

Imam Ibnu Hajar menukil bahwa Imam Malik berkata:

"الأمر عندنا بتسع وثلاثين وبمكة بثلاث وعشرين، وليس في شيء من ذلك ضيق" ونقل عنه أيضا قوله: "أنها بست وأربعين وثلاث وتر".
"(Shalat Tarawih) bagi kami (di Madinah) adalah 39 rakaat sedangkan di Mekkah 23 rakaat dan dalam hal ini tidak ada yang dipermasalahkan".

Imam Ibnu Hajar juga menukil dari Imam Malik pula:

"أنها بست وأربعين وثلاث وتر"
"Bahwasannya Shalat Tarawih itu 46 rakaat serta Witir 3 rakaat".

عن زرارة بن أوفى أنه كان يصلي بهم في البصرة أربعا وثلاثين ويوتر بثلاث، وعن سيدنا سعيد بن جبير رضي الله عنه أربعا وعشرين.
Diriwayatkan dari Zurarah Bin Aufa sesungguhnya beliau melakukan Shalat Tarawih dengan orang-orang di Bashrah 34 rakaat disertai Witir 3 rakaat, sedangkan Sayyidina Said Bin Jubair r.a. (melakukan Shalat Tarawih) 24 rakaat.

Dari Ishaq Bin Manshur, beliau berkata:

قلت لأحمد بن حنبل: "كم ركعة يصلى في قيام رمضان؟" فقال: "قد قيل ألوان نحو أربعين وإنما هو تطوع".
"Aku berkata kepada Ahmad Bin Hanbal: "Berapa rakaat Shalat Tarawih dilakukan pada bulan Ramadhan?", beliau berkata: "Sungguh telah dikatakan hal itu bermacam-macam setidaknya 40 rakaat, (soalnya) ini hanya Sunnah".

Imam Tirmidzi berkata:

"أكثر ما قيل أنه يصلي إحدى وأربعين مع الوتر".
"Kebanyakan yang dikatakan bahwasannya Shalat Tarawih itu 41 rakaat disertai Witir".

Hal ini tidak lain adalah berbedanya pendapat 4 Madzhab tentang bilangan rakaat Tarawih sebagai berikut:

Madzhab Syafi'i, Hanafi dan Hanbali menyatakan bahwasannya Shalat Tarawih itu 20 rakaat dengan 10 kali Salam. Hal ini berdasarkan riwayat yang mereka ambil dari Kalangan Sahabat r.a. bahwasannya Para Sahabat melakuan Shalat Tarawih pada masa Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali sebanyak 20 rakaat. Dan ini pula yang diambil dalam Madzhabnya Imam Daud Adz-Dzohiri.

Imam Tirmidzi berkata:

"وأكثر أهل العلم على ما روي عن عمر وعلي وغيرهما من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو قول النووي وابن المبارك".
"Kebanyakan Ahli Ilmu (Ulama') itu berdasarkan riwayat dari Sayyidina Umar, Sayyidina Ali dan yang lainnya dari Kalangan Sahabat Rasulullah SAW, dan ini adalah pendapatnya Imam Nawawi dan Ibnu Mubarak".

Imam Syafii berkata:

"هكذا أدركنا بمكة يصلون عشرين ركعة". فقه السنة (54/2) والترمذي (170/3)
"Beginilah kami menemui orang-orang di Mekkah Shalat 20 rakaat". Fiqh As-Sunnah Juz 2 hal. 54, Imam Tirmidzi Juz 3 hal. 170

Sedangkan Imam Malik melakukan Shalat Tarawih 46 rakaat selain Witir seperti yang dinukil oleh Imam Ibnu Hajar di Fath Al-Bari, sedangkan dalam riwayat lain dari Imam Malik itu 39 rakaat dengan 36 rakaat sebagai Tarawih dan 3 rakaat sebagai Witir.

Sampai di sini bisa kita tarik benang merah pada apa yang terjadi di Generasi Salaf dan Sahabat dan para pengikut mereka bahwa bilangan rakaat dalam Shalat Tarawih itu tidak dibatasi, bahkan Syeikh Ibnu Taymiyah Al-Hanbali (rujukan utama Wahhabi) berkata:

"اعلم أنه لم يوقت رسول الله صلى الله عليه وسلم في التراويح عددا معينا، ومن ظن أن التراويح على عدد معين مؤقت من النبي صلى الله عليه وسلم لا يزيد ولا ينقص فقد أخطأ". ذكره ملا علي القاري في شرحه مشكاة المصابيح ص 175
"Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah SAW tidak menentukan bilangan tertentu dalam Shalat Tarawih, sedangkan barang siapa yang menyangka bahwa Qiyam Ramadhan (Tarawih) itu dibatasi dengan bilangan tertentu oleh Nabi SAW, tak lebih dan tak kurang, maka dia telah salah". Disebutkan oleh Mulla Ali Al-Qari dalam Syarahnya Misykah Al-Mashabih hal. 175.

Sedangkan apa yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah berikut ini:

"ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشر ركعة". رواه البخاري (1096) ومسلم (738) وأبو داود (1341) والنسائي (1696) والترمذي (439) ومالك في الموطأ (114/1)
"Tidaklah Rasulullah SAW menambah lebih dari 11 rakaat di bulan Ramadhan dan selainnya". HR. Bukhari no. 1096, Muslim no. 738, Abu Daud no. 1341, Nasai no. 1696, Tirmidzi 439 dan Malik dalam Al-Muwaththa' juz 1 hal. 114.

Dalam riwayat tersebut tak lain yang dimaksud adalah bilangan rakaat Shalat Witir bukan Tarawih. Sebab Sayyidah Aisyah r.a. berkata: "Di Ramadhan dan selainnya", sedangkan di luar Ramadhan tidak ada Shalat Tarawih bedahalnya dengan Shalat Witir, di Bulan Ramadhan ada dan di luar Ramadhan juga ada.

Bahkah Imam Tirmidzi mengatakan:

"روي عن النبي صلى الله عليه وسلم الوتر بثلاثة عشرة وإحدى عشر وتسع وسبع وخمس وثلاث وواحدة".
"Telah diriwayatkan dari Nabi SAW bahwasannya Shalat Witir itu 13, 11, 9, 7, 5, 3 dan 1 rakaat".

Jika di luar Ramadhan saja Rasulullah melakukan Shalat Witir 11 atau 13 rakaat, apakah masuk akal jika Rasulullah melakukan Shalat Witir di Bulan Ramadhan yang merupakan Bulan Ibadah itu hanya 3 rakaat? Hal ini jika kita mengacu pada pendapat yang mengatakan 8 rakaat sebagai Tarawih dan 3 rakaat sebagai Witir, sungguh pemahaman yang sangat jauh.

Kemudian, jika kita katakan yang dimaksud dari 11 rakaat adalah Tarawih dan Witir, yakni 8 rakaat kita jadikan Tarawih dan 3 rakaatnya adalah Witir. Hal ini tentu bertentangan dengan apa yang ada pada Masa Sahabat di mana mereka melakukan Shalat Tarawih 20 rakaat sampai pada masa Imam Malik dan Imam Syafii.


Lantas, apakah masuk akal jika Sayyidah Aisyah r.a. mengetahui Tarawihnya Sahabat itu 20 rakaat kemudian beliau hanya diam saja menyaksikan mereka melakukan hal yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah SAW?

Terus, apakah masuk akal jika semua Sahabat berkumpul untuk melakukan sesuatu yang kemudian mereka anggap sebagai Ijma' (kesepakatan bersama) tanpa seorangpun yang mengingkarinya, kemudian hal ini dianggap menyalahi Syariat?

Sungguh demi Allah hal ini adalah pemahaman yang amat jauh sekali. Sedangkan sebagaimana diketahui adalah bahwasannya Shalat Tarawih di Masjidil Haram itu 20 rakaat tanpa seorangpun yang mengingkari bilangan ini dari Kalangan Ulama' yang Mu'tabar (diakui keilmuannya). Semoga Allah menunjukkan kita ke jalan yang lurus.

Ibnu Abbas meriwayatkan sebagai berikut:

"أن النبي صلى الله عليه وسلم كلن يصلي في رمضان عشرين ركعة والوتر". رواه ابن أبي شيبة (394/2)
"Sesungguhnya Nabi SAW dahulu melakukan Shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat ditambah Witir". HR. Ibnu Abi Syaibah Juz 2 Hal. 394

Walaupun Hadits tersebut tidak kuat akan tetapi diperkuat dengan apa yang dilakukan oleh Para Sahabat dan orang-orang setelah mereka dari Generasi Salaf dan telah bersepakat atas hal tersebut.

Dari As-Saib Bin Yazid r.a. beliau berkata:

"أن عمر جمع الناس في رمضان على أبي بن كعب وتميم الداري على إحدى وعشرين ركعة". رواه عبد الرزاق في المصنف (7730)
"Sesungguhnya Umar telah mengumpulkan orang-orang di Bulan Ramadhan paga Ubay Bin Ka'ab dan Tamim Ad-Dari  dengan (Shalat Tarawih) 21 rakaat". HR. Abdurrazzaq di Al-Mushonnaf no. 7730

عن مالك بن أنس عن يحيى بن سعيد الأنصاري: "أن عمر  بن الخطاب أمر رجلا يصلي بهم عشرين ركعة". المغني لابن قدامة (799/1)
Diriwayatkan dari Malik Bin Anas, dari Yahya Bin Said Al-Anshari: "Sesungguhnya Umar Bin Khattab memerintah seseorang untuk Shalat dengan orang-orang (sebanyak) 20 rakaat". Disebutkan dalam Kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah Juz 1 Hal. 799

وقال ابن قدامة المقدسي بعد أن نقل صلاة التراويح بعشرين ركعة عن عمر وعلي قال: "وهذا كالإجماع". أخرجه ابن أبي شيبة (393/2)
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata setelah menukil bahwasannya Shalat Tarawih itu 20 rakaat dari Umar dan Ali, beliau berkata: "Dan hal ini seperti Ijma' (kesepakatan bersama)". Ibnu Abi Syaibah Juz 2 Hal. 393
Bahkan Ibnu Taymiyah (rujukan utama Wahhabi) berkata:

"قد ثبت أن أبي بن كعب كان يقوم بالناس عشرين ركعة في قيام رمضان، ويوتر بثلاث فرأى كثير من العلماء أن ذلك هو السنة لأنه إقامة بين المهاجرين والأنصار ولم ينكر منكر، وهذه هي صورة الإجماع". الفتاوى لابن تيمية (112/23)
"Telah tetap adanya bahwasannya Ubay Bin Ka'ab  mengimami Qiyam Ramadhan (Tarawih) sebanyak 20 rakaat, kemudian melakukan Witir 3 rakaat. Dari ini kebanyakan Ulama' menganggap sebagai Sunnah karena dilakukan di tengah-tengah Muhajirin dan Anshar tanpa seorangpun yang mengingkarinya, dan inilah gambaran sebuah Ijma' (kesepakatan bersama)". Al-Fatawa karya Ibnu Taymiyah Juz 23 Hal. 112

Kesimpulan:
Sesungguhnya Para Sahabat telah sepakat bahwasannya Shalat Tarawih itu 20 rakaat, kemudian hal ini diikuti oleh Generasi Tabi'in tanpa seorangpun dari Generasi Salaf yang mengingkari terkecuali bilangan rakaat yang melebihi dari 20.

Disadur dari Kitab Al-Mausu'ah Al-Yusufiyah (hal. 631-635) karya Prof. Dr. Yusuf Khaththar Muhammad. Cetakan Dar At-Taqwa tahun 1434 H/2013, Damaskus - Suriah.